Selasa, 05 Juni 2012

Berita Penting!!! (Walopun pendek tapi musti dibaca!!)

Hal yang menggembirakan bagi yayasan al-azhar bandar lampung terutama sekolah saya yang tersinta, SD Al-Azhar 2 Bandar Lampung. Karna, adanya alumnus sd al-azhar yang lolos tes tahap III smpn RSBI. Yaitu,SMPN 2 Bandar Lampung ( http://www.smpn2-bdl.sch.id/). berikut daftar siswanya.

66  095 PPDB-2012M. NAUFAL ABIYYU RAHMAN              77.10
118224 PPDB-2012WIWIEK AGUSTINA                           80.87
158303 PPDB-2012MUHAMMAD ARSY PERWIRA W.          76.74
Untuk kesalah penulisan maupun kekurangan nama yang tercantum saya siap menerima kritik dan saran.

Sabtu, 07 Januari 2012

4 Yayasan Al-Azhar Indonesia Paling Prestisius

            1. Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar
Berawal dari pencarian lokasi pembangunan masjid oleh Walikota Jakarta Raya, Sjamsuridjal (1951 รข€“ 1953) ditetapkan maka akan dibangun Masjid Agung Kebayoran Baru yang berlokasi di jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta. Maka masjid agung mulai dibangun pada tanggal 19 November 1953 dan selesiai pada tahun 1958, pemberian nama Masjid itu oleh Rektor Al Azhar Kairo Prof. Mahmoud Syaltout sewaktu berkunjung ke Indonesia (th. 1960) dengan nama Masjid Agung Al Azhar. Hari jadi Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar ditetapkan pada tanggal 7 April 1952.
Masjid Agung Al-Azhar semakin berkembang pesat sehingga ada seorang jamaah masjid agung Al-Azhar bernama Abdulah Hakim, mengusulkan (Maret 1963) agar pengajian anak-anak sore sejenis madrasah diniyah yang diberi nama Pendidikan Islam Al-Azhar (PIA) ditingkatkan mutu penyelenggaraannya, sepadan dengan kemegahan masjid agung Al-Azhar. Yaitu dengan membentuk suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdiri dari TK, SD, SLTP, SMU bahkan sampai perguruan tinggi.
Berbagai tanggapan bermunculan atas usulan tersebut, sehingga dengan mudah pertemuan mengambil keputusan salah satunya adalah menyelenggarakan suatu Perguruan Islam yang bermutu dengan nama Perguruan Islam Al-Azhar. Awal Agustus 1964 mulai dibuka TK Islam Al-Azhar dan SD Islam Al-Azhar, SMP Islam Al-Azhar tahun1971, SMU Islam Al-Azhar tahun 1976 dan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) tahun 2000. Di Yayasan Pesantren Islam Al-azhar banyak sekali prestasi yang telah dibuatnya maka dari itu, yayasan al-azhar di Indonesia ditulis menjadi yayasan al-azhar yang paling prestisius versi Fan Blog Al-Azhar.
2.Yayasan Al-Azhar Bandung
Di Yayasan Al-azhar Bandung ini telah melahirkan tokoh-tokoh anak-anak maupun dewasa dan juga tokoh-tokoh politik seperti, Al-Irsyad Islamiyyah yaitu pendiri Muahmmadiyah Islamiyyah yang terkenal di negara-negara Timur Tengah.
Bukan hanya prestasi yang membuat Yayasan Al-Azhar Bandung menjadi nomor dua di Blog ini namun, kerapian,kebersihan,dan keindahan yayasan al-azhar juga inilah yang menjadi nomor dua. Pernah di catat di Arsip Pemerintahan Provinsi Jawa Barat bahwa SD,SMP Al-Azhar Bandung menjadi SD dan SMP yang paling bersih juga prestisius.
3.Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading
      Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading didirikan di Jakarta pada tanggal 22 Oktober 1987. Nama Al-Azhar Kelapa Gading kiranya tidak asing dalam dunia pendidikan. Keunggulan yang dimiliki oleh sekolah ini sudah banyak didengar di kalangan masyarakat.
Sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan, Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading menjadi fenomena model pendidikan modern. Ciri kemodernan yang tampak, paling sedikit dalam dua hal. Pertama, bentuk gerakannya yang terorganisasi secara sistematis dan terencana. Kedua, aktivitas pendidikannya yang mengacu pada model sekolah modern untuk ukuran zamannya.

     Mulai tanggal 1 November 2001, Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading mulai masuk di Surabaya. Secara resmi Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya dibuka pada tanggal 2 Januari 2002. Munculnya nama Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya, yang terdiri dari tiga jenjang, Pra Sekolah (KB dan TK), SD, dan SMP, menambah deretan sekolah unggul di Surabaya.
Sejak dibuka di Surabaya, 2 Januari 2002 sampai akhir bulan September 2005, Pimpinan Perguruan (Direktur) masih dijabat dari Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Jakarta. Melihat kenyataan yang ada, bahwa kultur masyarakat di Surabaya dan Jakarta tidak sama, maka berdasarkan kenyataan ini, mulai tanggal 1 Oktober 2005 diangkat Pimpinan Perguruan (Direktur) dari Surabaya.

    Respon dari masyarakat cukup bagus dengan hadirnya Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya. Meningkatnya jumlah siswa baru dari tahun ke tahun sebagai bukti bahwa sekolah ini cukup diminati. Meskipun saat pertama dibuka mengundang keraguan, namun tantangan itu semua telah terjawab. Teman-teman jurnalis media massa juga memberikan apresiasi yang positif terhadap perkembangan sekolah yang usianya belum genap tujuh tahun ini.
Melihat usianya, Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya relatif sangat muda. Namun, kematangan dalam mengemban amanat pendidikan cukup siap. Ini semua tidak lepas dari sebuah sistem yang sudah dibuat di Jakarta dan diterjemahkan sesuai dengan kultur di Surabaya. Sehingga tidak jarang, sekolah-sekolah lain, baik dari Surabaya maupun luar Surabaya berkunjung ke Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya.
Menyikapi diberlakukannya Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi (KBK), Al-Azhar Kelapa Gading tidak terlalu risau. Semua menyadari sesungguhnya perubahan adalah selalu terjadi setiap saat dalam hidup ini. Perubahan itu sendiri tidak dapat dihindari dan sudah menjadi ketentuan yang abadi. Siapa yang tidak mau berubah, maka siap untuk menghadapi resiko tinggi.

    Sebelum KBK diberlakukan untuk semua sekolah, Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading sudah lebih awal memberlakukan KBK. KBK sesungguhnya ada kaitan erat dengan life skill. Semua pelajaran yang disampaikan kepada siswa pada umumnya adalah menyiapkan anak untuk terampil dalam kehidupan sehari-hari.
Memantapkan perkembangan KBK saat ini, maka mulai tahun pelajaran 2006-2007, Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya memulai dengan mendesain pembelajaran dengan arah membangun karakter (Character Building). Untuk itu, langkah yang dilakukan menyusun buku pelajaran sendiri, khususnya kelas 1 dan 2 berdasarkan materi esensial yang dikembangkan melalui "Joyful learning" dengan berbagai pendekatan pembelajaran sesuai dengan karakter anak.
Mengenai Uji Kendali Mutu (UKM), semua sudah menjadi kebijakan pemerintah kota. Awalnya memang menjadi masalah bagi kami. Namun, karena ini sudah menjadi kebijakan yang tidak dapat ditawar, maka untuk mengatasi hal ini Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya membuat langkah-langkah strategis yang tetap pada tujuan awal, yaitu membangun karakter dengan tetap menjaga kualitas akademik, yaitu target nilai maksimal.
Model pembelajaran yang kreatif dan inovatif didesain untuk pembangunan karakter pada anak. Hal ini juga untuk menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan. Dengan harapan lulusan Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya menjadi siswa yang mempunyai kepribadian. Selain hasil nilai akademiknya bagus, juga mempunyai sikap yang positif dan terampil dalam menjalani hidup.

4.Yayasan Al-Azhar Bimatama (Semarang)


Atas inisiatif dari Bapak DR. H. Fuad Bawazier, MA. dan Bapak Drs. H. Sumahar Paisan yang disampaikan kepada para pemuka dan cendekiawan muslim di Semarang, maka berdirilah Yayasan Bina Manusia Utama (yang diakronimkan menjadi BIMATAMA) selaku pengelola lembaga pendidikan Al-Azhar 14 Semarang .
Bertepatan pada hari Jumat, Yayasan Bimatama Semarang berdiri berdasarkan Akte Notaris Lenie Sahara Hardjatno Loebis, SH Nomor 47 tanggal 12 Mei 1995, beralamat di jalan Imam Bonjol No. 1 D Semarang.
Tujuan Yayasan Bimatama adalah memantapkan pemahaman dan pengamalan agama Islam, ikut mencerdaskan bangsa serta meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta iman dan taqwa (IMTAQ). Untuk mencapai tujuan tersebut Yayasan Bimatama berupaya mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal, mendirikan masjid, panti asuhan, poliklinik/rumah sakit, serta mendirikan usaha–usaha bidang ekonomi yang hasilnya dapat dipakai untuk mendanai bidang sosial keagamaan.
Tahap awal yang dilakukan Yayasan Bimatama bekerjasama dengan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar Jakarta mendirikan TK Al-Azhar 14 pada tanggal 19 Juni 1995 dan dilanjutkan dengan mendirikan SD Islam Al-Azhar 14. Kegiatan Yayasan dilaksanakan di Jl. Imam Bonjol No. 1 Semarang sementara sekolah dilakukan di gedung BPD Jateng Jl. MT. Haryono 880 Semarang.
Alhamdulillah pada tahun 1997 Yayasan Bimatama bersama dengan TK dan SD Al-Azhar 14 menempati gedung baru berlantai III yang berada di Jl. Klentengsari Pedalangan, Banyumanik sebagai pusat pengembangan dan kemajuan Yayasan Bimatama dan Al-Azhar Semarang. Gedung tersebut difungsikan untuk SD, TK dan Kantor Yayasan. Seiring dengan perkembangan Al-Azhar 14, pada tahun 2000 Yayasan Bimatama dapat membangun gedung TK Al-Azhar 14.
Sebagai wujud kepedulian Yayasan dalam menempuh program pendidikan dasar sembilan tahun maka pada tahun 2002, SMP Al-Azhar 14 telah berdiri dengan menempati gedung SD Al-Azhar 14. Guna memberikan fasilitas terbaik bagi murid–murid Al-Azhar 14, pada tahun 2003 Yayasan Bimatama selesai membangun Masjid Al-Azhar, Gedung SMP Islam Al-Azhar 14 dan Kantor Yayasan.
Seluruh gedung kampus, masjid Al-Azhar, dan lapangan beserta fasilitasnya dibangun di atas tanah wakaf dari almarhum Bpk. Drs. Haji Sumahar Paisan.
       

Sejarah Al-Azhar Kairo

Tentang pendirian Jami’ al-Azhar kita memang harus berterimakasih dan mengakui bahwa Dinasti Fathimiyahlah yang memiliki andil besar di dalamnya. Oleh sebab itu tidaklah aib jika kita runtut sedikit sejarah kebelakang terutama tentang masuknya Dinasti ini ke kawasan Mesir.
* * *
Dinasti Fathimiyah Menguasai Mesir
Dinasti Fathimiyah didirikan oleh al-Mahdi Abu Muhammad Ubaidillah pada tahun 297 H./909 M. di negeri Maghrib (sekitar Maroko sekarang) dengan Qairawan sebagai ibu kota negaranya.
Seiringan dengan berkembangnya kekuasaan Fathimiyah di sekitar daerah Maghrib, timbul cita-cita besar khalifah al-Mahdi untuk menjadikan Dinastinya sebagai pemegang kekuasaan di dunia Islam kala itu sekaligus menyebarkan mazhab Syi’ah yang dipakai di kalangan Fathimiyah. Keinginan ini tentunya hanya bisa terwujud jika sanggup menaklukkan Daulah Abbasiyah di kawasan timur negeri Islam (sekitar Baghdad) yang saat itu memegang kontrol di sebagian besar daerah-daerah Islam.
untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, al-Mahdi segera mengatur rencana dan sebagai terget awal adalah bagaimana menguasai kawasan Hijaz (Makkah dan Madinah) dan Syam (sekitar Syiria sekarang).
Menaklukkan dua kawasan tersebut tidaklah mudah, setidaknya ada dua penghalang yang dapat menggagalkan rencana khalifah Fathimiyah al-Mahdi. Pertama dari sisi pengaruh politik, kawasan Hijaz dan Syam saat itu berada dalam pengaruh kuat Ikhsyidiyah yang berpusat  di Mesir. Kedua dari sisi geografis, negeri Mesir yang menjadi pusat daulah Ikhsyidiyah adalah negeri Abbasiyah pertama yang berbatasan langsung dengan kekuasaan Fathimiyah dan berada di antara negeri Maghrib dan kawasan Hijaz dan Syam, maka dengan demikian posisi Maghrib sangat tidak menguntungkan sekali secara politik dan militer jika mereka langsung melakukang penyerangan ke Hijaz dan Syam.
Dengan mempertimbangkan hal di atas, mereka memastikan bahwa mereka memang perlu menaklukkan Mesir dan Ikhsyidiyah yang memiliki posisi geografis lebih menguntungan secara politik dan militer.
* * *
Keinginan khalifah al-Mahdi untuk menaklukkan Mesir tidak dapat dibendung lagi, tiga kali penyerangan dilancarkan, serangan pertama dilancarkan pada tahun 301 H./913 M. namun serangan tersebut menemui kegagalan. Kemudian pada tahun 307 H./919 M. ia kembali mengadakan penyerangan, sayang hasilnya tetap nihil. Lalu pada tahun 321 H./933 M. ia mengirim pasukan untuk yang ketiga kalinya, usaha ini terus dilanjutkan sampai masa anaknya al-Qaim Biamrillah diangkat menjaid khalifah kedua Fathimiyah, namun hasilnya juga belum memuaskan, bahkan di sisa-sisa masa jabatan al-Qaim, ia lebih sibuk mengurusi gejolak-gejolak yang terjadi di dalam negerinya, sehingga kegiatan agresi militer ke Mesir mengalami kevakuman.
Keadaan seperti ini terus berlanjut di sepanjang masa pemerintahan khalifah ketiga Bani Fathimiyah, al-Mansur Binasrillah (334 H.-341 H./945 M.-952 M.).
Kondisi dalam negeri membaik ketika khalifah keempat, al-Muiz Lidinillah, naik tahta di akhir tahun 341 H./953 M.
Seluruh suku bangsa Barbar yang sebelumnya membangkang dapat “dijinakkan” saat itu, kemudian Bani Idrisiyah yang memberontak dan ingin melepaskan diri dapat juga ditaklukkan.
Keberhasilan dari sisi internal ini ternyata menjadikan kekuasaan Daulah Fathimiyah meluas, membentang dari barat Tripoli (Libiya sekarang) disebelah timur sampai Samudera Atlantik di sebelah barat.
Ketika itulah keinginan untuk menguasai Mesir kembali muncul. Keinginan ini juga diperkuat dengan beberapa alasan-alasan baru, diantaranya:
a. Meninggalnya Kafur al-Ikhsyidi tahun 357 H./968 M. yang merupakan wali Mesir sejak dua tahun sebelumnya.
b. Terjadinya krisis ekonomi di Mesir. Berkali-kali terjadi banjir di Mesir selama kurun sembilan tahun yang menyebabkan lahan pertanian menjadi sempit dan otomatis harga bahan pangan menjadi mahal serta diikuti dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga terjadilah bencana kelaparan di Mesir dan menyebarnya wabah penyakit di kalangan penduduk Mesir.
c. Kekacauan di bidang ekonomi ini merembes ke bidang militer, dimana terjadi perpecahan antara pemimpin-pemimpin militer negara. Situasi ini menambah kemarahan publik terhadap penguasa saat itu berlipat ganda.
d. Sekelompok golongan ekstrim Syi’ah yang disebut Qaramithah terus berusaha mengerogoti kawasan timur Mesir, dan kebetulan sekali beberapa anggota kelompok ini memiliki hubungan baik dengan Dinsti Fathimiyah.
Awalnya golongan Qaramithah inilah yang melakukan gencaran ke Mesir sehingga muncul kecemasan di kalangan publik, dalam kondisi tidak menentu ini sejumlah orang Fathimiyah telah bermain di dalam masyarakat Mesir untuk misi propaganda dan pengendalian opini publik agar mereka siap dengan masuknya penguasa baru di Mesir.
Dilain pihak Abbasiyah di Baghdad tidak sangup mengirim pasukannya untuk mengatasi krisis di Mesir.
* * *
Dengan memperhatikan kondisi internal dan eksternal yang demikian maka khalifah al-Muiz memberanikan diri meneruskan cita-cita pendahulunya yang belum menuai hasil maksimal.
Singkat cerita, selanjutnya khalifah Fathimiyah, al-Muiz Lidinillah , menyerahkan tanggungjawab penaklukan Mesir kepada panglima perangnya Jauhar ash-Shiqli yang sebelumnya berhasil meluaskan kekuasaan Fathimiyah sampai ke pantai Samudera Atlantik (barat Maroko sekarang).
Untuk penyerangan kali ini al-Muiz menyiapkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar dengan menempatkan seratus ribu pasukan berkuda di dalamnya. Sepertinya khalifah al-Muiz tidak ingin mengulangi kekalahan yang diderita pada tiga agresi sebelumnya.
Sebelum pengiriman pasukan dimulai, al-Muiz melakukan serangkaian persiapan-persiapan untuk menunjang kelancaran serangan ini, diantaranya pembangunan jalan dan jalur-jalur penghubung ke Mesir, penggalian sumur-sumur, pendirian tempat-tempat istirahat dan tidak lupa pendanaan dalam skala besar.
Di saat semua persiapan dirasa cukup maka mulailah khalifah al-Muiz melepas kepergian pasukannya di bawah komando panglima Jauhar ash-Shiqli pada 14 Rabi’ul Akhir 358 H./7 Maret 969 M.
Pasca beberapa seremonial pelepasan, berangkatlah pasukan besar itu menuju arah Mesir. Dan ketika al-Muiz kembali ke istananya, ia mengirimkan pakaian kebesarannya yang baru saja dipakai dalam seremonial tadi kepada Jauhar as-Shiqli kecuali cincin khalifahnya.
Setealah beberapa hari perjalanan, Jauhar dan pasukannya masuk Mesir melalui Iskandariyah (Alexandria). Ketika berita ini sampai di Fusthat, Ja’far al-Furat (menteri Mesir) dan orang-orangnya mengajukan permohonan perlindungan keamanan. Pada 18 Rajab 358 H mereka menyusun sebuah pertemuan dengan pihak Jauhar. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang menyatakan bahwa Jauhar akan memberikan keamanan dan kedatangannya ke Mesir adalah dalam rangka perbaikan serta tidak memaksakan mazhab Syi’ah pada masyarakat Mesir yang Sunni. Ternyata fakta di lapangan berkata lain, sebagian besar tentara Mesir tidak setuju dengan nota kesepakatan tersebut, sehingga terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan pasukan mesir yang tidak setuju.
Pada sore 17 Sya’ba 358 H./6 Juli 969 M. Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya masuk bagian kota Mesir yang kala itu mencakup kawasan Fusthat dan ‘Askar. Dan Jauhar mengambil sebuah tempat luas yang berposisi menghadap kedua kota tersebut sebagai markas pasukannya, tempat itu disebut Munakh.
Dengan masuknya pasukan Dinasti Fathimiyah ke Mesir berarti berakhirlah masa pendudukan Mesir di bawah kekuasaan Ikhsyidiyah dan Abbasiyah, dan mulailah Mesir memasuki babak baru di bawah kekuasaan Dinasti Fathimiyah.
* * *
Sebagaimana tradisi kaum muslimin sebelumnya, maka setelah berhasil menduduki Mesir, Jauhar segera mendirikan sebuah kota sebagai lambang kekuatan sekaligus kemenangan sisi politik dan militer Daulah Fathimiyah atas Daulah Abbasiyah di Mesir. Bahkan ketika itu Jauhar menghapuskan dan melarang pemakaian semua simbol-simbol Abbasiyah.
Kota tersebut dinamai oleh Jauhar ash-Shiqli dengan Mansuriyah, mengambil nama khalifah Fathimiyah ketiga yang merupakan orang tua khalifah al-Muiz sendiri. Mungkin Jauhar ingin kedudukannya di mata al-Muiz semakin tingi dengan menamai kota baru mereka dengan nama orang tua Sang Khalifah.
Nama ini terus dipakai selama empat tahun, sampai di saat kedatangan khalifah al-Muiz ke Mesir ia menggantinya dengan nama al-Qahirah atau yang lebih kita kenal dengan Kairo.
Al-Qahirah atau al-Qahir sendiri dalam bahasa arab berarti yang perkasa atau kuat, konon sebab penamaan kota ini demikian karena al-Muiz sendiri adalah seorang yang cenderung optimistik. Pemilihan nama itupun sebenarnya telah muncul di benak al-Muiz semenjak ia berada di negeri Maghrib, bahkan sebelum Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya melangkah menuju negeri baru ini, tepatnya ketika ia menyampaikan pidato pelepasan pasukan:” demi Allah, walaupun Jauhar ini berangkat seorang diri saja niscaya Mesir akan dapat ditundukkan juga, ia akan memasuki Mesir tanpa peperangan, kemudian menetap di reruntuhan Ibnu Touloun dan medirikan sebuah kota bernama al-Qahirah (yang perkasa) yang akan menaklukkan dunia…”.
Prof. Ahmad Hasan al-Baquri, mantan rektor Universitas al-Azhar, pernah menyebutkan alasan lain pemilihan nama al-Qahirah:” …ketika Presiden Jamal Abdul Naser berada di kota Qairawan, beliau mengunjungi sebuah masjid di sana yang bangunannya mirip dengan bangunan al-Azhar dan di sampingnya terdapat sebuah ruangan. Teman-teman dekatnya memberitahu bahwa dahulu ruangan itu adalah tempat penyimpanan harta dan senjata, dan mereka dulu menamakan ruangan tersebut dengan al-Qahirah. Dengan nama inilah dinamai kota al-Qahirah (Kairo) setelah Fathimiyah menaklukkan negeri Mesir, tambah mereka.”
Di lain riwayat disebutkan juga bahwa yang menamai kota ini dengan al-Qahirah bukan Khalifah namun Jauhar sendiri terinspirasi dari planet Mars, yang menurut ahli bintang/falak masa lalu merupakan raja planet/bintang (qahirul falak). Karena menurut riwayat ini ketika pembangunan kota akan dimulai, para ahli bintang mengelilingi pondasi kota dengan tali dan pada tali itu digantungkanlah lonceng-lonceng, kemudian mereka mulai menunggu bintang yang muncul, di saat itulah hinggap burung di atas tali tadi yang menyebabkan lonceng-lonceng tersebut berbunyi dan mereka mendapati bintang kejora (planet mars) telah muncul di ufuk, maka mulailah para pekerja mengayunkan tangan-tangan mereka, mulai membangun kota itu, dan kemudian dinamailah kota itu dengan al-Qahirah.
Terlepas dari beragam versi di atas, di beberapa kesempatan nama al-Qahirah juga biasa disebut al-Qahirah al-Muiziyah dengan menisbahkan nama khalifah al-Muiz kepadanya, atau al-Qahirah al-Mahrusah karena dinding pagarnya yang tinggi dan pintu-pintunya yang besar.
Dari segi posisi, kota al-Qahirah ini terletak di sebelah timur Fusthat, berbentuk persegi empat yang panjang sisinya 1200 meter dan dikelilingi oleh pagar yang besar. Waktu itu ia mencakup daerah al-Azhar, Gamaliyah, Husainiyah, Babu asy-Sya’riyah, Moski, Ghouriyah dan Bab al-Khalq.
Di sisi timur pagar kota, tepatnya di tempat yang dijadikan Jauhar sebagai markas pasukannya, dibangun juga sebuah istana untuk khalifah al-Muiz. Disekitar kawasan inilah berpusat pemerintahan Fathimiyah kala itu, di sana juga dibangun gudang-gudang senjata.
Namun, di masa-masa awalnya Kairo belumlah menjadi sebuah ibu kota melainkan hanya kumpulan dari istana-istana besar, Jami’ al-Azhar, barak-barak militer dan pemukiman kabilah-kabilah dari Maghrib. Sementara itu Fusthat yang berada di pinggir Nil masih berfungsi sebagai pusat perdagangan dan selalu setia meyambut kedatangan kapal-kapal Nil dari daerah-daerah selatan yang mengangkut hasil-hasil pertanian, ia juga masih menjadi kota terbesar bagi para pencari kerja dan pencari ilmu & pengetahuan.
Maka dengan berdirinya al-Qahirah atau Kairo berarti ia adalah kota Islam keempat yang didirikan dalam selang waktu 338 tahun sejak Amru bin Ash mendirikan kota Fusthat tahun 20 H.
Dan takdir telah menjadikan jejak-jejak kebesaran tiga kota sebelumnya terhapus sedangkan Kairo tetap kokoh sampai saat ini sebagai ibu kota Mesir dan kota terbesar dalam dunia Islam-selain Istambul ketika menjadi ibu kota Dinasti Utsmani- serta menjadi pusat perkembangan peradaban dari sisi agama, pemikiran dan pengetahuan dalam dunia Islam dan Arab khususnya.